Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Bokep Korea Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Tunggu apa lagi. Ah segar. Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Yes. Membuang napas. Duduk di tepi dipan. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Dingin. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Ah sial. Jangan di sini..!” katanya.Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya.




















