“Payah sekali dirimu Surya …” Aku yang sepertinya kehabisan tenaga, tak mampu menjawab kalimat Mama Sarah itu.Hanya bisa diam sambil mengatur nafas.“Ga heran kalo putri Mama memilih orang lain guna memuaskan nafsunya…” ujar Mama Sarah pelan.“Kok titit kamu bisa sekecil itu sih Surya…? Suara tepukan pantat dan paha yang bertumbukan, suara kecipakan lendir kenikmatan mereka, suara ringkikan spring bed tempat bersetubuh mereka, hingga suara jeritan mereka ketika sama-sama orgasme.Tak henti-hentinya mereka berteriak, berteriak, dan berteriak sepanjang malam. Bokep Mama Kamu ga suka…?” Tanya Sarah dengan nada yang mulai sedikit sewot.“Kalo kamu nggak mau juga gapapa… Sarah masih bisa kesana kok bareng mas Markus…”“Enggak… Gapapa kok sayang…” pasrahku.“Makasih ganteng….” ujar istriku manja sambil mengecup keningku.Rumah orang tua Sarah berjarak sekitar 6 jam perjalanan, sehingga guna menghindari kemacetan, kami berangkat dari semenjak subuh. Bedanya, di bawah atap tempat tinggal kami sekarang, ketambahan sosok lelaki lain yang siap kapan saja memenuhi kebutuhan biologis istriku.Tentu




















