“Ya udah, kamu buka sedikit deh kamarnya, aku naik ke lantai dua, kalo sepi aku langsung masuk kamar deh…”, katanya tak kuduga. Ana pasti sudah tahu itu tapi mbak yang satu ini rupanya memiliki “sesuatu” meski telah kuyup badan kami berdua, meskipun napas tinggal satu-satu nampaknya pertarungan sesungguhnya segera berlangsung.Selanjutnya aku sendiri bingung menceritakannya seingatku, badannya memelukku dengan erat, tangannya memegang kedua pantatku. Bokep Japan Maklum Tarakan adalah kampung halaman istrinya. “Panggil aja Ana jangan pake Mbak, o iya coba tebak umurku berapa..”
“Engng.., dua lima”, kataku. Kuhampiri, kupeluk dia agar agak cepat ketegangannya menurun. Dasar memang kisah nyata ini harus terjadi. Maklum Tarakan adalah kampung halaman istrinya. Sorry buat yang merasa jadi pramugari baik-baik. Aku hanya melongo melihat kenekatannya. Dan setelah menyelesaikan dua landing terakhir hari ini, sampai juga kita di Tarakan. Dari arah pintu masuk aku berjalan perlahan dengan pandangan mata hampir tak berkedip ke arah receptionist itu.




















