“Denok”, kataku. Bokep Mama Aku tak mau menyakiti mbak ratih, aku ingin berusaha lembut. Aku tak mencabutnya hingga habis. Denok tampak sedang membersihkan rumah. Ia memakai T-Shirt dan celana pendek. Tapi dengan satu catatan, ia tak boleh menunjukkan cintanya kepadaku kecuali aku minta. Putingnya berwarna coklat, tapi kulitnya mulus, aku melihat ke bawah. Harum sekali baunya, apakah mbak ratih selalu merawat ini? Denok sendiri seorang janda, anaknya berada di desa diasuh oleh orang tuanya. Ingin masuk saja sepertinya. Aku meremas toketnya dengan gemas. “Denok”, kataku. Sial, bikin aku berdebar-debar aja. “Iya den”, jawabnya dengan tatapan kosong. Aku lalu melepas celanaku hingga tubuh bagian bawahku telanjang. Lama aku berpikir tentang tindakanku ini. Total seminggu di rumah kami sendirian, hanya ditemani Denok, pembantu kami. ouuuggghh….nikmat. “Iya sih, kan Denok keluar dulu cinta”, katanya genit .




















