Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Vidio Porno “Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Suara itu lagi. Tidak terlalu ayu. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Jendela kubuka. Tetapi, bayangan itu terganggu. Sial. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Aku tahu di mana ruangannya. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Apa katanya nanti? Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Mobil melaju. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Simak kisah lengkapnya berikut ini!Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atas angkot. Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. “Si Nina, yang tadi. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh




















