“Thanks,” bisikku padanya. Bokep Tobrut “Maaf, aku hanya menggoda.”
“Jangan lagi.”
“Tentu tidak,” sahutnya. Ia menoleh dan menatapku dengan heran. Ia menatap mataku. Nafsuku sudah meledak-ledak. “Kamu bisa menikmatinya, selama kau mau,” kudengar ia berkata. Kami lalu berkenalan dan berjabat tangan. Justeru bulu kudukku meremang. Nafsuku sudah meledak-ledak. Sejujurnya, baru kali itulah aku menyaksikan kemaluan seorang wanita dari dekat. Aku tertawa melihatnya. Mataku berkunang- kunang beberapa saat kemudian. “Tidak apa-apa. “Aku..ah… maafkan,” bisikku setelah sadar bahwa aku terlalu cepat baginya. Tuduhan semacam itu tidak kusukai. Ia menggelinjang saat kumemasukkan jari tengahku ke liangnya. Saat aku bergerak hendak bergeser, jemarinya meraih lenganku. Ia tertawa geli. Baju-bajuku masih berserakan di lantai. Ini rumah bujangan,” kataku begitu aku melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Kulepas jasku dan meletakkannya di atas buffet, lalu aku berjalan menuju bar kecil di ruang dapur.




















