“Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Bokep Twitter Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.“Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.




















