Tiap malam aku dan Mamat berkumpul di pos ronda yang sudah tidak difungsikan, menghabiskan bir dan rokok yang kami beli dari uang yang kami sisihkan. Dan hubungan ini tidak terasa sudah berjalan hampir dua tahun. Bokep Twitter Ia pun berdiri, kemudian aku duduk di ranjang tepat menghadapnya. Kemana pemilik kamar ini? “Nanti aku jemput ke rumah…” teriakku ketika Rianti belum terlalu jauh melangkah.“Gitu dong bro…” Mamat mencoba memberikan dukungannya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu, tapi aku ingin tahu langsung alasannya dari mereka. Wajar saja, tiap malam Mamat selalu menebar paku di jalan-jalan, tanpa sedikit nakal begitu, aku yakin usaha kami pasti sepi.“Udah, lamar saja si Rianti…” Mamat berkata padaku ketika kami tengah mengerjakan tugas kami, menambal ban sepeda motor di kios kami.




















