Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Bokep China Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku masih mematung. Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Bicara apa? Ah masa bodo. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku.“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik




















