“Ahh.., Zan.., Ahh.., Zan.., Enak
Zan..”, desahan Yeyen semakin keras
saja karena merasa nikmat, seakan
tidak peduli kalau terdengar orang di
luar. Tapi
ya terpaksa, aku melenggang keluar
kamar, tapi baru sampai di pintu, aku
lihat di ruang tamu banyak ciban
yang lagi ngobrol dengan Lenny
sambil merokok. Bokeb Yeyen,
Lenny, dan aku yang belum bisa
berenang cuma berputar-putar saja di
pinggiran, sedangkan Mas Zani
berkelana ke sana ke mari dengan
bebasnya. Setelah
berputar-putar sebentar, sorenya aku
menuju rumah temanku yang sudah
sangat akrab di kawasan DK. Terus terang saja Mas Zani kaget,
“Heh! Mas Zani baru pertama kali itu
bersenggama, sedangkan Yeyen
sepertinya sudah berkali-kali, soalnya
kata Mas Zani, Yeyen sudah tidak
perawan lagi. Anaknya cakep juga, masih kuliah,
umurnya 21 tahun. Lalu aku berusaha meyakinkan
mereka, “Jangan kuatir lah.., aku
sudah biasa kok ngeliatin ginian..”
Akhirnya setelah beberapa
perdebatan ringan dan berkat
kelihaianku berdiplomasi mereka
mengijinkan juga aku untuk di dalam
kamar saja, tapi dengan syarat aku
tidak boleh macam-macam apalagi
melaporkan ke orang tuanya.




















