Semuanya berubah saat Anis menerima surat panggilan dari sekolah keesokan harinya. Ditariknya tangan sang putra untuk masuk ke dalam rumah. Bokeb Mereka mengobrol banyak, mulai dari sekolah Safiq hingga saat-saat intim mereka berdua yang menjadi semakin sering.”Kamu nggak bosen nenen sama Umi?” tanya Anis sambil membelai rambut Safiq yang lagi-lagi tenggelam ke belahan buah dadanya. Saat sudah kembali ke ukuran maksimal, ia lekas mempersiapkan diri. Yah, begitu!” Anis yang menerimanya, merintih dan menggeliat-geliat tak terkendali.Tubuh montoknya menggelepar hebat seiring goyangan Safiq yang semakin kuat. Memang, ia tahu ini dosa -salah satu dosa besar malah- tapi kalau rasanya senikmat ini, ia sama sekali tidak menyesal telah melakukannya.Safiq terus memainkan kemaluan Anis.




















