Napasnya tersengal. Sial. Bokep STW Jari tangan mulai dingin. Hitam. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Hawin datang. Masih menutupi diri dengan tabloid. Kaki disandarkan di dinding. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Ah masa bodo. Kali ini dengan telapak tangan. Tetapi, bayangan itu terganggu. Jendela kubuka. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Hawin..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Apa katanya nanti? Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja.Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah.




















