Ia telah berpakaian tetapi kancing-kancing bajunya belum terpasang seluruhnya. Bagian yg paling ingin kulaihat dari milik Bu Lastri. Bokeb Itilnya bener-bener gede. “Kencing saja belum bisa lurus sudah ngelihat film saru (jorok) ih,” paling komentar seperti itu yg keluar dari mulutnya saat memergoki kami tengah mengerubuti laptop memutar film mesum.Bahkan belakangan kami suka memanggil Bu Lastri dengan julukan Bu Merry bukan Bu Kantin seperti selama ini. Kamu mau kan?” kata Pak Ilham membujuk.Jengkel karena dituduh mau mencuri, aku diam tetapi tidak mengiyakan.Hanya kupandangi wajah Pak Ilham yg kembali berkeringat dengan sinis. Setelah kutemukan lubang cukup besar yg memungkinkan mengintip ke dlm, aku langsung mengintipnya.Dugaanku tidak meleset. Apa mungkin Pak Ilham yg tengah menggeraygi Bu Lastri? Malah sepertinya tangan kepala sekolahku itu juga telah sampai ke organ intim sang wanita pengelola kantin.Sebab berkali-kali tubuh Bu Lastri menggerinjal-gerinjal dan berusaha menepis tangan Pak Ilham.




















