Ia melepas kemeja dan celana panjangnya, lalu duduk di pinggir tempat tidur dengan hanya bercelana pendek sambil berusaha mengatur dirinya agar tidak nampak grogi. Windu menahan nafas. Bokep Mama emmm… bagaimana kalau Titi. Bajunya lepas doooong!” si mungil mematikan rokok di asbak, melepas blus coklatnya dan mengantungkannya di belakang pintu. Dibayangkannya payudara yang berayun-ayun di depan matanya, belahan liang kewanitaannya yang kemerahan dan basah, desahan nafasnya, tetesan keringat di dadanya. Pelan-pelan ia mulai meremas benda kecil itu. Rasanya luar biasa. Kalau tidak puas, jangan kesini lagi deh pak!” si resepsionis tersenyum sambil menuruni tangga. “Mau yang lebih enak? Lagi nikmatin aja..!” Windu menjawab sekenanya. Jangan tegang dong, mas… Santai aja.” Windu tidak tahu harus berkata apa. Kelebatan wajah ibu dan ayahnya kembali muncul. Tenang mas, pelan-pelan saja… Jangan gugup gitu ahh..” si mungil tersenyum. Atau mau ngobrol dulu, atau mau yang lain, terserah si oom deh!” si mungil itu mulai menyalakan




















