Apa sih mau kalian!?” kataku dengan lirih, mataku sembab, ingin sekali aku menangis“Saya tidak bermaksud apa-apa kok Non”“Bapak mau uang kan? Bokeb Bagaimanapun aku juga menginginkan semua ini terjadi. Aku terdiam sesaat bingung harus menjawab apa padanya.“Dhea…Dhe…kamu masih disitu? Spermanya yang beraroma tajam dan kental itu muncrat membasahi wajahku. Malam ini aku mengenakan gaun tidur yang pendek sehingga memperlihatkan sepasang paha jenjangku yang mulus. Aku menerka-nerka apakah mereka tahu di balik gaun ini tidak ada pakaian dalam, hal ini membuatku semakin horny saja. Pagi ini rumah ku tampak sepi sekali, maklum semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, kecuali Ari yang saat ini terbaring lemas karna sakit, sebagai Ibu kost yang baik aku harus merawatnya. Saat membayangkan celana dalamku dilihat jelas oleh anak yang masih seumur jagung, tapi aku tetap berusaha tenang, tanganku sedikit gemetar saat mengompres kepalanya,“Ibu harap ini yang terakhir kalinya Ibu liat majalah-majalah ini ya,”“eh iya Bu, Ari




















