Ia tertawa. Kulihat ia memperhatikan rumah kecilku dengan seksama. Bokeb Bibirku bergerak sendiri meraih bibirnya. Ia menoleh, alisnya berkerut saat memandangku. Fantasi tentang hari yang begitu luar biasa, saat aku kehilangan keperjakaanku di tangannya. Alisnya berkerut, bibirnya setengah terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu. Kali ini ia menarik salah satu tali bra-nya hingga terjatuh sampai ke lengan. “Ini,” ucapku seraya menyodorkan gelas di tanganku. Dengan jemariku, kuraba bulu-bulu kemaluannya yang tersusun rapi. “Dingin kalau bisa.”
Saat aku kembali dengan dua gelas air dingin, kulihat ia sudah membuat dirinya nyaman di ujung sofa L. Tapi rasa jengkelku sudah hilang. Yang kurasakan selanjutnya adalah birahi yang memuncak. “Sori,” bisikku sekali lagi. Jangan berhenti. Ia tertawa kecil saat kugigit kulit dadanya. “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku lirih.




















