Membuang napas. Bokep Mama Come on lets go! Badannya berbalik lalu melangkah. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Ke bawah: Tidak. Tetapi, bayangan itu terganggu. Hap.“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.“Ya.”Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Aku harus memulai. Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Atau mau gunting? Nafasnya tercium hidungku. Ah bodoh. Kaki disandarkan di dinding. Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Kaki disandarkan di dinding. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.



