Aku pertegas bahwaaku mengendus kuatkuat aroma itu. Bokeb Lama sekali iamemijati pangkal pahaku. Payudaraitu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ke mana ia? Lalu pijitan turun ke bawah. Napasnyatersengal. Aku perhatikania sejak bangkit hingga turun. meloncat begitu saja katakata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkotdengan seorang wanita, separuh baya lagi. Lho, salon kan tempat umum. Aku tidak dapat lagimemandanginya.Kantorku sudah terlewat. katanya.Halo..? Bibirku melumat bibirnya.Jangan di sini Sayang..! Hah..? Jangan di sini..! kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Akupun segan memulai cerita. Aku menggelepar.Sst..! Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah. Bayar arisan.Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Lalu ia mengolesi dadakudengan cream. Angin meneroboskencang hingga seseorang yang membaca tabloidmenutupi wajahnya terganggu.Mas Tut.. Ia menyentuhnya. Bicaraapa? kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Lihatlah, masak ia begitu berani




















