Kulihat Kang Hendi tersenyum di bawah sana. Ia ersenyum penuh kemenangan. Bokep hot tidak.. Ia lalu duduk di bibir ranjang sambil meraih tanganku dan membisikan kata-kata rayuan bahwa aku ini cantik namun kurang beruntung dalam perkawinannya. Sungguh memalukan sekali pengakuan atas kenikmatan yang kurasakan saat itu. Lidah Kang Hendi bermain lincah. Aku sampai mengerang saking nikmatnya. Aku, entah terpaksa atau memang mencintainya, memutuskan untuk menikah dengannya. Aku benci pada diriku sendiri yang begitu mudah terpedaya oleh kelihaiannya bercumbu. Dadaku jadi terbuka lebar mempertontonkan keindahan buah dadaku yang menjulang tegar ke atas. Saat kumenoleh kebelakang aku bisa melihat bayangan pantatku bergoyang-goyang sementara kontolnya terlihat keluar masuk memekku. Apalagi ia sudah berani-berani masuk ke dalam kamarku malam-malam begini.Teringat itu aku langsung bertanya, “Kemana Teh Mirna?”.“Ssst, tenang ia lagi di rumah yang di sana” kata Kang Hendi dengan tenang seolah tidak bersalah.Kurang ajar, runtukku dalam hati.




















