Sebenarnya aku juga sudah hampir sampai tapi sekuat tenaga aku bertahan. Terus terang, aku ga suka ama bosku. Bokeb Terasa hangat di dalam muluntuku. Mbak mulai mendesis lagi. Abis itu aku duduk lagi di meja marketing.Selang 1 jam, Ibu Titis udah nyampe lagi di studio. Pemandangan ini yang selalu kutunggu. Dan lebih kaget lagi karena itu adalah tangan Ibu Titis yang sedang berjongkok di samping kursi yang aku duduki. Sekarang 3 bagian sensitifnya habis aku garap. Kupandangi sejenak tetek Mbak Titis yang sedari tadi belum kusentuh sama sekali. Aku segera bangkit. Aku bengong sesaat, tapi segera menganggukkan kepalaku. Aku hanya diam saja menikmati sensasinya. Kudongakkan kepalaku menatap Mbak Titis. Ahh… Memikirkannya aja aku udah ngaceng gini.Singkat cerita, malamnya aku lagi-lagi harus lembur nungguin penyiar terakhir kelar. Mbak Rani, penyiar terakhir hari ini, masih bercuap-cuap aja di depan miknya.Aman, pikirku.




















